Pernah gak sih denger kalau katanya wanita menggunakan emosi dan lelaki menggunakan akalnya untuk menyelesaikan sesuatu.
jujur pada saat itu saya memang menyangkal, saya selalu berpikir kok, saya juga punya akal kok, okee itu-lah sangkalan saya. karena saya perempuan tentu saya menyangkal, saya rasa wanita di luar juga setuju dengan saya.
tapi lain ceritanya dengan kemarin, saya mulai berpikir ulang tentang penyangkalan saya.
saya mengalaminya sendiri, saya rasa memang ada benarnya, sedikit loh tidak semua. karena wanita pun berpikir walau seringkali menggunakan emosinya saat menghadapi sesuatu, dan saya akui seringkali jadi melow yelow kalau sudah pakai emosi, atau malah justru sebaliknya malah jadi seperti akan ada perang dunia saat wanita marah dengan emosi yg meluap-luap lalu habis itu mereka bargumam "hmm ngapain gue ngomel yah? buang buang tenanga amat"
jadi kembali lagi dengan cerita atau lebih tepatnya pengalaman saya kemarin.
jadi begini, saya kuliah siang kemarin seperti biasa karena jadwal semester 7 ini memang ajaib jam-nya. jadi ibu saya bukan "ibu" tapi beliau adalah eyang uti saya yg saya panggil ibu bertanya "kamu kuliah jam berapa hari ini?" saya "siang, bu". saya dengan jelas dan lantang menjawabnya karena ibu dan mbah saya sudah cukup tua dan pendengarannya agak berkurang.
saya pergi pagi itu olahraga rutin dua hari sekali, bersepeda.lalu sepulang main sepeda saya lihat ibu dan mbah sudah rapi, saya tau mereka mau jalan-jalan katanya beli sepatu baru.
lalu saya lihat mereka berangkat, pintu kamar ditutup dan dikunci. saya tidak bertanya jam berapa mereka pulang. samapai saya sadar hari semakin siang dan ibu mbah belum juga pulang, karena apa? tas saya dan dompet beserta segala isinya ada di kamar yg dikunci dan kuncinya dibawa oleh ibu. saya mulai panik, saya cari di tempat biasa ibu menaruh kunci, tidak ada. saya akhirnya memutuskan mandi dulu, siapa tau nanti selesai mandi mereka sudah pulang.
selesai mandi ternyata mereka belum juga pulang, jam sudah hampir setengah 2 dan teman teman saya sudah berangkat, makin panik saya karena biar bagaimanapun ke tempat janjian bersama teman saya, saya tetap harus bayar ongkos.
saya lihat jendela kamar depan terbuka, saya ambil gagang sapu mencoba meraih tas, tapi gagal, emosi. saya ke atas cari bambu yg lebih panjang atau apapun untuk bisa mangambil tas.
saya coba lagi, masih gagal, emosi meningkat.
saya malah menelepon mama saya, berharap mama akan membantu padahal saya tau benar telepon mama pun sia-saia, karena mama di Kuningan dan saya di Depok. tapi saya coba terus telepon mama smpai 15kali dan tidak diangkat, semakin emosi. maksud saya telepon mama hanya untuk marah-marah sebenarnya, bodoh.
saya mulai putus asa, saya lihat celana jins saya rogoh kantongnya, lumayan 2 ribu, kantong satunya sribu lima ratus. saya pikir cukuplaaah, nanti pulangnya toh saya bareng lagi. tapi rasanya aneh, keluar rumah tanpa dompet dan isi-isinya.
akhirnya saya panggilom saya di kamar atas "om bantuin ambil tas di kamar, kuncinya dibawa ibu, adel mau bernagkay gak ada ongkos".om saya pun turun.
om saya melongok ke dalam kamar, dia mecona pertama dengan besi panjang yg saya ambil, dia coba tidak sampai, lalu dia melihat tali dan gagang bekas payung. dengan santai diikatkan keduanya sehingga lebih panjang, lalu disibaklah gorden dan voila.. tas saya tertarik ke dekat jendela dalam 5menit saja.
saya hampir 1.5 jam ngomel dan tidak menghasilkan apa-apa, keringetan, emosi pula tidak menghasilkan apa-apa malah dengan bodohnya telepon mama, tapi om saya dengan 5menit saja bisa mnyelesaikannya.
oke.. darisini-lah saya membenarkan kalau wanita menngunakan emosi dan lelaki menggunakan akal.
hei.. wanita di luar sana ada yg pernah mengalami seperti saya?
No comments:
Post a Comment