ya kali ini saya senang, sebabnya semua pun mengerti karena apa,lebih tepatnya siapa.
sebenarnya kalau boleh jujur hati saya menolak keadaan begini,
tapi.. jujur lagi saya senang.
setiap kali handphone itu berdering dan saya melihat kamu di sana, tidak dapat dipungkiri saya tersenyum bahakan seringkali melonjak kegirangan.
namun.. saya terlamabat menyadarinya, saat rasa di mana setiap menyebut namamu seperti banyak kembang api yg meletup di perut saya. iya saya terlamabat, karena ternyata di tempat lain ada pun seseorang yg merasakan kembang api setiap kali menyebut namamu.
memang belum sejauh antara kamu dengannya, tapi saya pun ingin senang seperti dirinya denganmu.
kamu memang belum menjanjikan apa pun pada saya, belum seperti kamu dengannya (lagi lagi) tapi saya merasakan.. yaah sulit diungkapkan.
saya beranikan menanyakannya padamu, jawabanmu abu-abu. belum jelas atau saya yg membuat itu terlihat belum jelas di mata saya. saya berusaha menutup mata dan telinga dengan jawabanmu. karena apa? saya takut, takut jawaban itu menyakitkan untuk didengar.
tapi ternyata mata dan rasa ingin tau saya lebih besar dari apa rasa takut tadi.
saya beranikan mencari.. apa yg saya cari? banyak hal, dan saya temukan.
saya menemukannya, walau sempat beberapa kali saya menolak apa yg saya lihat.
jawaban yg saya temukan lebih jelas, tidak hanya abu-abu, dan seperti dugaan saya sebelumnya ternyata memang sudah sejauh itu.
marah-kah saya? saya dengan tegas menjawab tidak, saya tidak memiliki hak itu.
tapi jujur saya merasa bodoh, karena sebenarnya jawabanmu cukup memberikan arti yg.. sulit mengatakannya, yaa jelas maksud saya.
kamu tidak menyebutnya teman, tapi seseorang yg dekat.
padat dan jelas, cukup dimengerti bagi mereka yg posisinya tidak dalam posisi saya, cukup jelas bagi mereka yg tidak menutup mata dan telinga seperti saya.
saya hanya bisa bilang maaf karena letupan itu masih dan semakin indah, terimakasih :)
No comments:
Post a Comment